~Aily Hurricane~
Aku Aily Hurricane. Seperti
namaku, rambutku berombak tak beraturan bagai diterpa tornado. Kelebihanku
adalah aku anak seorang pengusaha kaya.
Kutulis dengan cepat puisi dalam
benakku di atas selembar kertas.
“Menunggu untuk sesuatu yang
tidak pasti, mencari sesuatu yang tidak ada. Melihat sesuatu yang tak nyata,
menyentuh hal yang tak berupa.
Bisakah datang lebih cepat?
Mencarimu lebih menyakitkan, daripada keberadaanmu tak diketahui. Melihatmu
yang tak lagi melihatku.
Dimana kau meletakkannya,
perasaan yang dulu kau puji puja? Kini hilang tak berbekas. Bahkan debunya pun
tak lagi tampak.
Dimana kuharus mencari? Dirimu
yang dulu, kini lenyap. Tak ada lagi mata yang memandang, tak ada lagi
kata-kata penghibur.
Sayap-sayapku semakin rapuh, dulu
kau berikan untukku terbang. Kini hancur. Musnah perlahan-lahan.
Kakiku tak lagi mampu melangkah,
semua nada dirimu menguap ke langit. Seolah aku boneka kayu yang digerakkan
dengan talimu.
Angin malu menyapaku, hujan muak
melihatku, bahkan api enggan menyentuhku. Kenapa kau begitu istimewa?
Tak bisakah mata itu tertutup
melihatku? Tak bisakah perasaanmu hanya untukku? Tak bisakah kau selalu ada di
sisiku? Bukan untuk orang lain yang ada di sisimu. Tapi AKU!
Kini harapanku telah lenyap,
bahkan waktu tersenyum, saat melihatku terjebak dan tak dapat bergerak.
Kau pun pergi…
Seolah aku tidak ada. Seolah aku
hanya orang asing yang tak pernah kau kenali.”
Aku menatapnya lagi, berusaha
membuat dia melihatku. Sia-sia…
Lagi-lagi kedua mata yang indah
itu menatap lembut Rina. Dia tersenyum kemudian. Tentu itu bukan untukku, tapi
untuk Rina. Bagiku Rina begitu beruntung memilikinya. Aku melangkah beberapa
meter di belakang mereka. Rina tampak bahagia bersama Ciel begitu pula sebaliknya.
Pemandangan ini membuatku iri. Namun apa boleh buat, Rina adalah sahabatku yang
berharga.
“Aily, bukankah ini milikmu?”
Tanya Rina sambil memperlihatkan benda di tangannya. Sebuah gantungan dengan
bentuk malaikat yang begitu sederhana berwarna biru lembut. Itu adalah
gantungan pemberian Ciel saat anniversary kami yang ke tiga tahun.
“Aaah~iya, terima kasih. Ini
sangat berharga bagiku,” ucapku spontan seraya mengambil ‘ciel’ si gantungan.
Rina tersenyum melihat tingkahku.
Dia begitu mengetahui betapa berharganya gantungan itu sejak pertama kali aku
mendapatkannya. Tapi dia tidak pernah tahu siapa orang yang telah
memberikannya.
Aku menatap Ciel yang
berpura-pura tidak peduli. Tatapan matanya berubah khawatir. Ciel pacarku,
sekaligus tunangan Rina. Begitu mengetahui Ciel bertunangan, hatiku hancur dan
bertambah hancur saat tahu bahwa Rina lah yang menjadi tunangannya.
“Aily?” Tanya Rina yang tampak
khawatir menyadarkanku. Sepertinya aku menatap ciel kecil di tanganku terlalu
lama.
Hari ini adalah Hanami yang
sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Karena hari ini keluarga Ciel dan Rina
berkumpul untuk mengadakan hanami bersama.
‘Seolah aku hanya orang asing
yang mengganggu disini,’ keluhku dalam hati.
Setelah sampai di tempat kami
akan berkumpul, aku berjalan sedikit menjauh dari Ciel dan Rina. Kuangkat ciel
kecil di tanganku, menatap Sakura yang jatuh di sekelilingnya mengingatkanku
saat dimana Ciel memberikan gantungan itu. Begitu bahagia…”
“Hai, Ciel, kau akan terus di
sisiku kan? Jangan pernah pergi dariku ya…” ucapku pada si gantungan perlahan.
Tiba-tiba sebuah tangan mendorong
dahiku dengan lembut. “Seperti orang bodoh saja. Bicaralah langsung pada
orangnya,” ucap Ciel yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku.
“Kau milik Rina dan ciel
milikku,” kataku seraya memeluk si gantungan. Sebelum Ciel membalas
kata-kataku, Rina datang mengejutkan kami.
“Ahh~ gantungan itu…” kata Rina
membuat jantungku berdetak lebih cepat. ‘Apa dia mengetahuinya?’ pikirku dalam
hati.
“Aku penasaran kenapa kau
menamainya Ciel? Seperti nama Ciel, kan?” Katanya sambil menunjuk Ciel yang
sudah berdiri jauh dariku.
Fiuh…
‘Ternyata Rina tidak tahu’,
pikirku lega.
“Bukankah Ciel berarti malaikat?”
Tanyaku pada Rina. Rina mengangguk paham lalu memeluk Ciel yang telah ada di
sisinya.
“Kalau begitu, Rina beruntung
karena memiliki malaikat yaa~” ucapnya riang.
“Tentu saja, Rina beruntung
sekali. Karena memiliki malaikat yang selalu memperhatikanmu,” balasku
sungguh-sungguh.
‘Lagi-lagi aku pura-pura senang.”
Ucapku dalam hati sambil berharap ada orang yang dapat menggantikan posisi Ciel
di hatiku.
Rina berjalan cepat ke arahku,
aku tak perlu berbalik untuk mengetahuinya. Suara langkah kaki Rina begitu
mudah aku kenali. Namun aku tetap berjalan menjauh berpura-pura tidak tahu.
Suara riuh orang-orang yang sedang hanami menyembunyikan teriakan Rina yang
memanggilku. Aku terus berjalan sambil menatap kelopak sakura yang berjatuhan.
Tanpa sengaja, ciel si gantungan tersangkut di tas seorang anak kecil yang
tengah berlari. Dengan cepat aku berlari mengejar anak itu dan berhasil
menangkapnya. Anak perempuan yang memiliki tas itu mengembalikan gantunganku
dengan sopan lalu kembali berlari pergi.
Kutatap ciel di tanganku dengan
lega sambil terus berjalan. Sesaat kemudian aku sadar telah berada jauh dari
tempat hanami. Entah aku ada dimana. Tak ada suara ataupun kendaraan yang
lewat. Bahkan anak tadi pun hilang entah kemana. Angin berhembus membawa
kelopak bunga sakura. Aku berlari ke sebuah tanjakan dimana kelopak-kelopak itu
berasal sambil berharap menemukan tempat Ciel dan Rina berada. Di ujung jalan,
kulihat seorang laki-laki membelakangiku dibawah pohon sakura. Aku berjalan
perlahan berharap itu Ciel. Sebelum sempat aku melihat wajah laki-laki itu yang
bergerak menghadap ke arahku, sebuah mobil menghantamku dengan keras. Aku dapat
mendengar suara beberapa orang di sekelilingku namun tubuhku tak dapat
digerakkan dan aku tidak sanggup lagi membuka mata. Terakhir kali yang aku
sadari adalah gantungan di tanganku terjatuh dan terdengar bunyi “Drak” seolah ada
sesuatu yang hancur.
^-^
~Rina Hikari~
Namaku Rina Hikari. Aily
sahabatku selalu berkata bahwa keberuntungan selalu mengikutiku. Dia sahabat
terbaikku yang selalu ceria. Dia memiliki orang yang sangat dicintainya. Itu
terlihat jelas dari caranya memperlakukan gantungan hadiah anniversary mereka.
Tapi saat dia ingin memperkenalkannya padaku, aku mendapat kabar tentang
pertunanganku. Ciel nama tunanganku itu. Begitu kuperkenalkan Ciel pada Aily,
raut wajah Aily berubah aneh. Kurasa ada sesuatu di antara mereka namun tak ada
satu pun yang bicara padaku. Seolah memang tidak ada hubungan dan tak saling
mengenal. Aku tahu ada yang salah namun tidak ada bukti dari kecurigaanku ini.
Sekarang yang kutahu adalah Ciel pengisi hatiku.
Hanami tahun ini, keluargaku dan
Ciel berkumpul bersama. Tentu aku tidak ingin melewatkannya tanpa Aily. Namun
tingkahnya semakin hari semakin aneh khususnya hari ini. Hari dimana kami
mengadakan hanami. Dia terlihat tidak antusias sama sekali. Padahal biasanya
dialah yang bersemangat melihat sakura-sakura yang bermekaran.
Kulihat Ciel menghampiri Aily
saat aku ke toilet. Dia memandang Aily dengan pandangan lembut yang penuh arti,
berbeda dengan caranya menatapku. Ini membuatku ingin membatalkan pertunanganku
dengan Ciel. Tapi tingkah Aily seolah membenci Ciel. Aku tahu gerakan khas yang
selalu dilakukan Aily secara tidak sengaja ketika ia sedang marah. Dan hari ini
kulihat dia melakukannya berulang kali saat Ciel berada di dekatnya. Sebenarnya
apa yang terjadi di antara mereka?
Aku benci menjadi satu-satunya
orang yang tidak tahu apa-apa. ‘Aily, kenapa kau tidak bicara jujur padaku? Kau
adalah sahabatku yang berharga,’ keluhku dalam hati menatap mereka yang
terlihat begitu akrab.
Aku memanggil Aily saat dia
tengah menikmati hanami. Dia terkesan tak ingin mengikuti hanami ini. Tapi
suara riuh orang-orang di sekelilingku meredam teriakanku yang memanggil namanya.
Tiba-tiba Aily berlari seolah
mengejar sesuatu, tapi tak ada apapun di depannya. Aku berlari mengejarnya
namun dia menghilang begitu saja di antara kelopak sakura yang berjatuhan. Apa
aku salah lihat? Tak ada satupun orang yang menyadarinya. Aku berlari kembali
ke Ciel dengan panik.
“Aily menghilang di depan
mataku!” Jeritku dan mulai menangis. Raut wajah Ciel berubah panik dan langsung
berdiri. Seluruh anggota keluarga kami pun ikut mencari Aily. Namun tak jua
kami temukan Aily.
^-^
Hari ini sudah genap enam bulan
kami kehilangan Aily. Orang tuanya di Inggris tak dapat dihubungi. Begitu juga
dengan kakaknya di Prancis. Aku baru menyadari betapa kesepiannya Aily. Memang
dia pernah bercerita tentang keluarganya namun raut wajahnya yang ceria
membuatku lupa kalau selalu tinggal sendirian di rumahnya. Aku merasa menjadi
orang asing untuknya dalam sekejap.
“Hai, Aily. Apa kabarmu? Kau ada
dimana?” Bisikku saat berdoa di kuil. Tanpa disadari air mataku sudah membasahi
pipi. Aku mengeluarkan sapu tangan di tas sambil berjalan.
“Kakak datang lagi?” Tanya gadis
kecil yang tinggal di kuil itu. Aku hanya tersenyum menanggapi kepolosannya
yang lucu.
“Kakak rajin sekali berdoa. Baru
kali ini aku lihat ada yang datang setiap hari untuk berdoa,” katanya lagi.
“Iya, aku berdoa agar orang yang
aku sayangi selalu dijaga oleh dewa dan lekas bertemu denganku lagi.” Jawabku
sekenanya.
“Aahh~ doa yang sama seperti
kakak itu!” Balasnya penuh semangat.
“Kakak yang mana?” Tanyaku
penasaran.
‘Bukankah sungguh jarang doa yang
begitu serupa?’ pikirku.
“Dia baru pindah disana enam
bulan yang lalu, tapi dia berdoa seminggu sekali tiap pagi-pagi sekali.” Katanya
sambil menunjuk jalan yang berliku.
“Bisa kau antar aku kesana?”
Tanyaku pada gadis kecil itu sambil berharap bahwa Aily-lah orang yang
dimaksud.
‘Enam bulan yang lalu,’ ulangku
dalam hati.
^-^