Selasa, 24 Desember 2013

TARIAN KELOPAK BUNGA DI ATAS ANGIN

~Aily Hurricane~

Aku Aily Hurricane. Seperti namaku, rambutku berombak tak beraturan bagai diterpa tornado. Kelebihanku adalah aku anak seorang pengusaha kaya.

Kutulis dengan cepat puisi dalam benakku di atas selembar kertas.

“Menunggu untuk sesuatu yang tidak pasti, mencari sesuatu yang tidak ada. Melihat sesuatu yang tak nyata, menyentuh hal yang tak berupa.

Bisakah datang lebih cepat? Mencarimu lebih menyakitkan, daripada keberadaanmu tak diketahui. Melihatmu yang tak lagi melihatku.

Dimana kau meletakkannya, perasaan yang dulu kau puji puja? Kini hilang tak berbekas. Bahkan debunya pun tak lagi tampak.

Dimana kuharus mencari? Dirimu yang dulu, kini lenyap. Tak ada lagi mata yang memandang, tak ada lagi kata-kata penghibur.

Sayap-sayapku semakin rapuh, dulu kau berikan untukku terbang. Kini hancur. Musnah perlahan-lahan.

Kakiku tak lagi mampu melangkah, semua nada dirimu menguap ke langit. Seolah aku boneka kayu yang digerakkan dengan talimu.

Angin malu menyapaku, hujan muak melihatku, bahkan api enggan menyentuhku. Kenapa kau begitu istimewa?

Tak bisakah mata itu tertutup melihatku? Tak bisakah perasaanmu hanya untukku? Tak bisakah kau selalu ada di sisiku? Bukan untuk orang lain yang ada di sisimu. Tapi AKU!

Kini harapanku telah lenyap, bahkan waktu tersenyum, saat melihatku terjebak dan tak dapat bergerak.

Kau pun pergi…

Seolah aku tidak ada. Seolah aku hanya orang asing yang tak pernah kau kenali.”

Aku menatapnya lagi, berusaha membuat dia melihatku. Sia-sia…

Lagi-lagi kedua mata yang indah itu menatap lembut Rina. Dia tersenyum kemudian. Tentu itu bukan untukku, tapi untuk Rina. Bagiku Rina begitu beruntung memilikinya. Aku melangkah beberapa meter di belakang mereka. Rina tampak bahagia bersama Ciel begitu pula sebaliknya. Pemandangan ini membuatku iri. Namun apa boleh buat, Rina adalah sahabatku yang berharga.

“Aily, bukankah ini milikmu?” Tanya Rina sambil memperlihatkan benda di tangannya. Sebuah gantungan dengan bentuk malaikat yang begitu sederhana berwarna biru lembut. Itu adalah gantungan pemberian Ciel saat anniversary kami yang ke tiga tahun.

“Aaah~iya, terima kasih. Ini sangat berharga bagiku,” ucapku spontan seraya mengambil ‘ciel’ si gantungan.

Rina tersenyum melihat tingkahku. Dia begitu mengetahui betapa berharganya gantungan itu sejak pertama kali aku mendapatkannya. Tapi dia tidak pernah tahu siapa orang yang telah memberikannya.

Aku menatap Ciel yang berpura-pura tidak peduli. Tatapan matanya berubah khawatir. Ciel pacarku, sekaligus tunangan Rina. Begitu mengetahui Ciel bertunangan, hatiku hancur dan bertambah hancur saat tahu bahwa Rina lah yang menjadi tunangannya.

“Aily?” Tanya Rina yang tampak khawatir menyadarkanku. Sepertinya aku menatap ciel kecil di tanganku terlalu lama.

Hari ini adalah Hanami yang sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Karena hari ini keluarga Ciel dan Rina berkumpul untuk mengadakan hanami bersama.

‘Seolah aku hanya orang asing yang mengganggu disini,’ keluhku dalam hati.

Setelah sampai di tempat kami akan berkumpul, aku berjalan sedikit menjauh dari Ciel dan Rina. Kuangkat ciel kecil di tanganku, menatap Sakura yang jatuh di sekelilingnya mengingatkanku saat dimana Ciel memberikan gantungan itu. Begitu bahagia…”

“Hai, Ciel, kau akan terus di sisiku kan? Jangan pernah pergi dariku ya…” ucapku pada si gantungan perlahan.

Tiba-tiba sebuah tangan mendorong dahiku dengan lembut. “Seperti orang bodoh saja. Bicaralah langsung pada orangnya,” ucap Ciel yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku.

“Kau milik Rina dan ciel milikku,” kataku seraya memeluk si gantungan. Sebelum Ciel membalas kata-kataku, Rina datang mengejutkan kami.

“Ahh~ gantungan itu…” kata Rina membuat jantungku berdetak lebih cepat. ‘Apa dia mengetahuinya?’ pikirku dalam hati.

“Aku penasaran kenapa kau menamainya Ciel? Seperti nama Ciel, kan?” Katanya sambil menunjuk Ciel yang sudah berdiri jauh dariku.

Fiuh…

‘Ternyata Rina tidak tahu’, pikirku lega.

“Bukankah Ciel berarti malaikat?” Tanyaku pada Rina. Rina mengangguk paham lalu memeluk Ciel yang telah ada di sisinya.

“Kalau begitu, Rina beruntung karena memiliki malaikat yaa~” ucapnya riang.

“Tentu saja, Rina beruntung sekali. Karena memiliki malaikat yang selalu memperhatikanmu,” balasku sungguh-sungguh.

‘Lagi-lagi aku pura-pura senang.” Ucapku dalam hati sambil berharap ada orang yang dapat menggantikan posisi Ciel di hatiku.

Rina berjalan cepat ke arahku, aku tak perlu berbalik untuk mengetahuinya. Suara langkah kaki Rina begitu mudah aku kenali. Namun aku tetap berjalan menjauh berpura-pura tidak tahu. Suara riuh orang-orang yang sedang hanami menyembunyikan teriakan Rina yang memanggilku. Aku terus berjalan sambil menatap kelopak sakura yang berjatuhan. Tanpa sengaja, ciel si gantungan tersangkut di tas seorang anak kecil yang tengah berlari. Dengan cepat aku berlari mengejar anak itu dan berhasil menangkapnya. Anak perempuan yang memiliki tas itu mengembalikan gantunganku dengan sopan lalu kembali berlari pergi.

Kutatap ciel di tanganku dengan lega sambil terus berjalan. Sesaat kemudian aku sadar telah berada jauh dari tempat hanami. Entah aku ada dimana. Tak ada suara ataupun kendaraan yang lewat. Bahkan anak tadi pun hilang entah kemana. Angin berhembus membawa kelopak bunga sakura. Aku berlari ke sebuah tanjakan dimana kelopak-kelopak itu berasal sambil berharap menemukan tempat Ciel dan Rina berada. Di ujung jalan, kulihat seorang laki-laki membelakangiku dibawah pohon sakura. Aku berjalan perlahan berharap itu Ciel. Sebelum sempat aku melihat wajah laki-laki itu yang bergerak menghadap ke arahku, sebuah mobil menghantamku dengan keras. Aku dapat mendengar suara beberapa orang di sekelilingku namun tubuhku tak dapat digerakkan dan aku tidak sanggup lagi membuka mata. Terakhir kali yang aku sadari adalah gantungan di tanganku terjatuh dan terdengar bunyi “Drak” seolah ada sesuatu yang hancur.

^-^

~Rina Hikari~

Namaku Rina Hikari. Aily sahabatku selalu berkata bahwa keberuntungan selalu mengikutiku. Dia sahabat terbaikku yang selalu ceria. Dia memiliki orang yang sangat dicintainya. Itu terlihat jelas dari caranya memperlakukan gantungan hadiah anniversary mereka. Tapi saat dia ingin memperkenalkannya padaku, aku mendapat kabar tentang pertunanganku. Ciel nama tunanganku itu. Begitu kuperkenalkan Ciel pada Aily, raut wajah Aily berubah aneh. Kurasa ada sesuatu di antara mereka namun tak ada satu pun yang bicara padaku. Seolah memang tidak ada hubungan dan tak saling mengenal. Aku tahu ada yang salah namun tidak ada bukti dari kecurigaanku ini. Sekarang yang kutahu adalah Ciel pengisi hatiku.

Hanami tahun ini, keluargaku dan Ciel berkumpul bersama. Tentu aku tidak ingin melewatkannya tanpa Aily. Namun tingkahnya semakin hari semakin aneh khususnya hari ini. Hari dimana kami mengadakan hanami. Dia terlihat tidak antusias sama sekali. Padahal biasanya dialah yang bersemangat melihat sakura-sakura yang bermekaran.

Kulihat Ciel menghampiri Aily saat aku ke toilet. Dia memandang Aily dengan pandangan lembut yang penuh arti, berbeda dengan caranya menatapku. Ini membuatku ingin membatalkan pertunanganku dengan Ciel. Tapi tingkah Aily seolah membenci Ciel. Aku tahu gerakan khas yang selalu dilakukan Aily secara tidak sengaja ketika ia sedang marah. Dan hari ini kulihat dia melakukannya berulang kali saat Ciel berada di dekatnya. Sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka?

Aku benci menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa. ‘Aily, kenapa kau tidak bicara jujur padaku? Kau adalah sahabatku yang berharga,’ keluhku dalam hati menatap mereka yang terlihat begitu akrab.

Aku memanggil Aily saat dia tengah menikmati hanami. Dia terkesan tak ingin mengikuti hanami ini. Tapi suara riuh orang-orang di sekelilingku meredam teriakanku  yang memanggil namanya.

Tiba-tiba Aily berlari seolah mengejar sesuatu, tapi tak ada apapun di depannya. Aku berlari mengejarnya namun dia menghilang begitu saja di antara kelopak sakura yang berjatuhan. Apa aku salah lihat? Tak ada satupun orang yang menyadarinya. Aku berlari kembali ke Ciel dengan panik.

“Aily menghilang di depan mataku!” Jeritku dan mulai menangis. Raut wajah Ciel berubah panik dan langsung berdiri. Seluruh anggota keluarga kami pun ikut mencari Aily. Namun tak jua kami temukan Aily.
^-^
Hari ini sudah genap enam bulan kami kehilangan Aily. Orang tuanya di Inggris tak dapat dihubungi. Begitu juga dengan kakaknya di Prancis. Aku baru menyadari betapa kesepiannya Aily. Memang dia pernah bercerita tentang keluarganya namun raut wajahnya yang ceria membuatku lupa kalau selalu tinggal sendirian di rumahnya. Aku merasa menjadi orang asing untuknya dalam sekejap.

“Hai, Aily. Apa kabarmu? Kau ada dimana?” Bisikku saat berdoa di kuil. Tanpa disadari air mataku sudah membasahi pipi. Aku mengeluarkan sapu tangan di tas sambil berjalan.

“Kakak datang lagi?” Tanya gadis kecil yang tinggal di kuil itu. Aku hanya tersenyum menanggapi kepolosannya yang lucu.

“Kakak rajin sekali berdoa. Baru kali ini aku lihat ada yang datang setiap hari untuk berdoa,” katanya lagi.

“Iya, aku berdoa agar orang yang aku sayangi selalu dijaga oleh dewa dan lekas bertemu denganku lagi.” Jawabku sekenanya.

“Aahh~ doa yang sama seperti kakak itu!” Balasnya penuh semangat.

“Kakak yang mana?” Tanyaku penasaran.

‘Bukankah sungguh jarang doa yang begitu serupa?’ pikirku.

“Dia baru pindah disana enam bulan yang lalu, tapi dia berdoa seminggu sekali tiap pagi-pagi sekali.” Katanya sambil menunjuk jalan yang berliku.

“Bisa kau antar aku kesana?” Tanyaku pada gadis kecil itu sambil berharap bahwa Aily-lah orang yang dimaksud.

‘Enam bulan yang lalu,’ ulangku dalam hati.


^-^

Selasa, 23 Juli 2013

Prolog: New Day

(Vanilla version)

"Vanilla, kamu mau yang mana?" tanya kakakku yang cantik. Pandanganku menatap ke segala arah.
"Tidak ada yang cocok denganku!" protesku sedih, aku tidak secantik kakakku yang satu ini. Tubuhku terlalu pendek, kulitku sangat gelap. Bahkan meja kayu yang berwarna paling gelap di sekolahku kalah telak dengan kegelapan warna kulitku. .
"Yang ini saja, ini cocok untukmu," Kata kakak sammbil menyerahkan sebuah sweater merah dengan gambar rumah di tengahnya. Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Sweater itu sangatlah mempesona bagiku.
"Terima kasih, Chocola," kataku bahagia yang disambut dengan senyuman hangat kakakku ini.

                                                                   ^^

"Vanilla, ayo bangun. . !!"ucap kakakku dengan lembut, "Hari ini hari pertama masuk SMP loh!"
'Deg!" jantungku serasa terhenti sejenak dan melompat dari tempat tidurku bersiap untuk berlari walau mataku belum terbuka.
"BRUK!!BRAK!!DUK!!!' ini bukan suara gendang yang di pukul tapi hasil dari suaraku jatuh terbelit selimut dan membentur lemari buku di sebelah tempat tidurku. (-.-")

"Hahahaha! Mangkanya buka mata dulu baru lari," ejek kakakku di sela tawanya,"Liat tuh jatuhkan cuma karena selimut!"

"Senang, melihat adiknya sendiri jatuh, senang. .!"protesku sambil bangkit berdiri dan merapihkan tempat tidurku.
"Iya dong senang, habis lucu sih, coba aku foto," katanya jahil dan mulai tertawa kembali. Kami adalah saudara kembar. Karena dia lahir lebih awal dariku, dia menjadi kakakku. Kakak yang cantik namun jahil. Berbeda denganku yang manja dan tidak cantik. Tapi karena itulah kami begitu akrab.
"Masih ngantuk. ." sahutku malas lalu kembali ke atas tempat tidurku yang telah rapih.
"Ayo bangun!" bujuk kakakku, Chocola,"Kalau tidak bangun nanti aku tinggal loh!"

Kalau sudah begini, kemungkinannya 50:50. Dia bisa saja benar-benar meninggalkanku. tapi bisa juga itu hanyalah siasat jahilnya. Mau tak mau aku bangun dari tempat tidurku yang nyaman dan memaksa kakiku melangkah menuju kamar mandi.

"Aku masih mengantuk," sahutku putus asa sambil menatap ke arah Chocola yang berbalik menatapku dengan tatapan jahil. Dengan cepat ku langkahkan kakiku ke kamar mandi. Aku merasakan hal buruk yang akan terjadi bila aku tidak melakukannya.

Setengah jam kemudian aku sudah berada di meja makan bersama Chocola dan Papa. Ku tatap menu pagi ini, nasi goreng dan roti dengan selai di permukaannya. Aku mendesah. Seketika Chocola menatapku.

"Mama, aku ingin sandwich dan sereal!" rajukku sambil memainkan garpu yang ada di tanganku.
"Ayo makan, jangan pilih-pilih makanan. Tidak baik!" protes papa melihat tingkahku.
Aku menatap mama yang hanya tersenyum membawakan menu sarapan yang sesuai dengan keinginanku.
"Special untuk Vanilla," ucap mama sambil meletakan hidangan di hadapanku. Papa hanya mendecak sambil menggelengkan kepalanya.

Aku tersenyum dan menggoyangkan badanku seolah ada musik yang membuatku menari. Ku tatap Chocola yang tengah sibuk dengan sarapannya. Tiba-tiba saja Chocola menatapku dengan tatapan setengah kesal. Entah karena apa, sepertinya dia badmood pagi ini.

"Mama, aku ingin bekal makanan setiap hari, ya?" ucapku saat mama bergabung di meja makan.
"Kau ingin mama buatkan apa?"tanya mama seraya tersenyum lembut.
"Sandwich," ucapku senang. sambil memikirkan teman-teman baru yang akan bertemu denganku di sekolah nanti.
"Chocola ingin dibuatkan bekal apa?" tanya mama pada kakakku itu, namun Chocola hanya diam seolah tak mendengarkan pembicaraan kami.

"Ayo kita berangkat!" ucap papa penuh semangat di sambut sorakanku yang gembira. Rasanya aku benar-benar tidak sabar untuk sampai di sekolah.
"Kau ini!"bisik Chocola sambil menusuk-nusuk pipiku saat aku mengambil bekal dari mama.
"Apa?"tanyaku bingung namun dia meninggalkanku dan masuk ke mobil dengan tatapan setengah kesalnya.
'Apa sih yang sejak tadi dipikirkan Chocola? Apa dia tidak suka hari pertama?" pikirku sambil bertanya-tanya dalam hati.



(Chocola Version)

Kuperhatikan satu per satu pakaian yang menggantung di lemari besar itu. Setengah dari isinya telah berserakan memenuhi seisi ruangan. Kucoba memadupadankan pakaian yang satu dengan lainnya. Cocok, tentu saja. Semuanya terlihat sangat pas.

Pandanganku beralih pada sosok mungil disebelahku, adikku. Dia tampak sedang memandangi pakaian yang berserakan itu.

"Vanilla, kamu mau yang mana?" Tanyaku padanya, ia segera mengalihkan pandangannya kearahku.

"Tidak ada yang cocok denganku!" Jawabnya murung. Aku memandang sekelilingku lagi, mengamati pakaian-pakaian itu satu per satu. Tidak mungkin tidak ada, pasti ada walaupun hanya satu pakaian. Pandanganku tertuju pada sweater merah yang menggantung di lemari pakaian.

"Yang ini saja, ini cocok untukmu." Kataku seraya menyerahkan sweater itu kepadanya.

Dia tersenyum dan menganggukkan kepala. Sweater itu terlihat pas di tubuhnya.

"Terima kasih, Chocola." Ujarnya senang.

^^

Buku-buku pelajaran, semuanya telah tertata rapi di dalam tas. Seragam sekolah yang baru juga telah melekat di tubuhku. Bagaimana cara mengungkapkannya ya? Entahlah, tapi kurasa aku siap untuk menjalani hari ini. 

"Vanilla, ayo bangun..!!" Seruku membangunkannya yang masih berlindung di balik selimutnya.

"Hari ini hari pertama masuk SMP lho! Kau tidak mau sampai datang terlambat, kan?" Tambahku sambil berjalan keluar dari kamar. Baru beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba saja...

"BRUK! BRAK!! DUK!!" 

Aku menoleh ke dalam kamar. Kulihat adikku sedang dalam posisi terbaring di lantai sambil mengusap kepalanya. Dia pasti jatuh dari tempat tidur karena selimut yang membelit tubuhnya.

Aku tertawa melihatnya, dia terlihat kesal padaku yang meledeknya.

"Makanya, buka mata dulu, baru lari. Liat tuh, jatuh kan cuma karena selimut!" Ujarku menertawai kecerobohannya.

Vanilla merengut kesal. "Senang melihat adiknya sendiri jatuh, senang...!?" Protesnya.

Aku menghentikan tawaku dan bertolak pinggang di hadapannya, "Iya dong, senang. Habis lucu sih, coba aku foto."

Aku tertawa lagi, sedangkan ia terlihat semakin kesal. Yah, paling tidak aku tidak perlu repot  membangunkannya lagi. Kejadian tadi seharusnya cukup untuk membuka matanya.

"Masih ngantuk.." Sahutnya sambil berbaring lagi di atas tempat tidurnya.

"Yaaa!! Ayo bangun!! Kalau tidak bangun nanti aku tinggal lho!"

Vanilla membuka matanya dan mulai beranjak dari tempat tidurnya. "Aku masih mengantuk, Chocola..." Sahutnya lemas.

"Kau pikir aku tidak mengantuk?" Lirihku pelan, sangat pelan sampai aku ragu dia bisa mendengar perkataanku.

Aku melirik jam tanganku. Melihatnya yang sudah masuk ke kamar mandi membuatku beranjak dari kamar dan menuju ruang makan.

"Selamat pagi, pa." Sapaku saat tiba di meja makan.

Kulihat hanya ada papa di sana, ia sedang mengoleskan selai di atas rotinya. Mama pasti masih sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk kami.

"Selamat pagi, Chocola. Bagaimana keadaanmu? Sudah siap untuk hari pertamamu di SMP?" Tanya papa padaku.

Aku mengangguk denga penuh antusias. "Tentu saja aku siap. Aku tidak sabar bertemu dengan teman-teman baru. Kira-kira seperti apa ya mereka? Apa mereka akan menerimaku dengan baik?" Ujarku cemas.

"Tentu saja, sayang. Mereka pasti mau berteman denganmu. Kalau sampai ada yang memusuhimu, beritahu papa. Papa pasti akan memberi pelajaran pada anak itu. Berani-beraninya dia memusuhi putri papa yang cantik ini.."

"Ya ampun, pa. Tidak perlu berlebihan seperti itu. Mereka hanya anak SMP, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Ujar mama yang tiba-tiba saja muncul sambil meletakkan nasi goreng buatannya di atas meja. Kemudian dia kembali lagi ke dapur untuk mengerjakan hal lain.

Beberapa saat kemudian, Vanilla datang dengan seragam sekolah yang sama denganku. Dia mendesah saat melihat menu yang dihidangkan di atas meja. Aku menatapnya sekilas, setelah itu kembali fokus pada nasi goreng yang ada di piringku. Ia pasti menolak menu yang sudah dihidangkan itu.

"Mama, aku ingin sandwich dan sereal!" Ujarnya dengan nada manja.

Benarkan apa yang kupikirkan. Kejadian seperti ini terjadi hampir setiap pagi saat kami sekeluarga sedang menikmati sarapan. Jadi, aku sudah tidak heran lagi.

"Ayo makan, jangan pilih-pilih makanan. Tidak baik!" Protes papa. Setelah ini mama akan datang sambil membawa apa yang diinginkan Vanilla.

"Special untuk Vanilla," ucapnya kemudian.

Kejadian seperti ini sudah menjadi rutinitas di pagi hari. Vanilla merajuk, papa yang protes, dan mama yang memanjakan Vanilla.

"Mama, aku ingin bekal makanan setiap hari, ya?" Ujar Vanilla yang sedang menikmati semangkuk serealnya.

"Kau ingin mama buatkan apa?"

"Sandwich!" Serunya senang.

Mama melirik ke arahku yang masih fokus menghabiskan sarapanku.

"Chocola ingin dibuatkan bekal apa?" Tanya mama padaku.

Aku kehilangan selera makan, melihat mama yang sangat memanjakan Vanilla membuat moodku sedikit berantakan. Ah~ tidak, tidak! Moodku tidak boleh sampai memburuk, karena semua yang akan kulakukan hari ini tidak akan berjalan baik jika moodku bermasalah.

"Ayo kita berangkat!" Seru papa. Vanilla bersorak gembira menyambut ajakan papa. Sepertinya ia sangat senang.

"Kau ini!" Bisikku padanya, sedikit tidak suka dengan kelakuannya.

"Apa?" Tanyanya bingung.

Berisik. Aku sebal jika pagi-pagi sudah ada yang membuat kegaduhan. Kuharap hari ini semuanya berjalan lancar. Kuharap di hari pertama ini, aku bisa menemukan teman-teman yang baik. Dan kuharap, Vanilla tidak bersikap manja padaku di depan teman-teman baruku nanti.

^^
 

Minggu, 23 Juni 2013

Waktu



By Asti Khairunnisa
Aku adalah waktu,
Yang berdiri diam menunggumu
Aku menunggumu untuk melihatku,
Saat kau membuka matamu pertama kali

Karena akulah WAKTU,
Yang tanpa sadar membuatmu terluka,
Kehilangan orang yang kau sayangi,
Membenci dan menyalahkan dirimu sendiri

AKU  MELIHATNYA
Karena akulah waktu
Walau diam membisu,
Akulah saksimu,
Saat kau melupakanku,
Kau akan kehilangan segalanya, tanpa kau sadari

Bila kau ingat padaku,
Kau akan menyenangkan dirimu,
Menghargai diriku,
Dan tersenyum di akhir hayatmu