"Vanilla, kamu mau yang mana?" tanya kakakku yang cantik. Pandanganku menatap ke segala arah.
"Tidak ada yang cocok denganku!" protesku sedih, aku tidak secantik kakakku yang satu ini. Tubuhku terlalu pendek, kulitku sangat gelap. Bahkan meja kayu yang berwarna paling gelap di sekolahku kalah telak dengan kegelapan warna kulitku. .
"Yang ini saja, ini cocok untukmu," Kata kakak sammbil menyerahkan sebuah sweater merah dengan gambar rumah di tengahnya. Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Sweater itu sangatlah mempesona bagiku.
"Terima kasih, Chocola," kataku bahagia yang disambut dengan senyuman hangat kakakku ini.
^^
"Vanilla, ayo bangun. . !!"ucap kakakku dengan lembut, "Hari ini hari pertama masuk SMP loh!"
'Deg!" jantungku serasa terhenti sejenak dan melompat dari tempat tidurku bersiap untuk berlari walau mataku belum terbuka.
"BRUK!!BRAK!!DUK!!!' ini bukan suara gendang yang di pukul tapi hasil dari suaraku jatuh terbelit selimut dan membentur lemari buku di sebelah tempat tidurku. (-.-")
"Hahahaha! Mangkanya buka mata dulu baru lari," ejek kakakku di sela tawanya,"Liat tuh jatuhkan cuma karena selimut!"
"Senang, melihat adiknya sendiri jatuh, senang. .!"protesku sambil bangkit berdiri dan merapihkan tempat tidurku.
"Iya dong senang, habis lucu sih, coba aku foto," katanya jahil dan mulai tertawa kembali. Kami adalah saudara kembar. Karena dia lahir lebih awal dariku, dia menjadi kakakku. Kakak yang cantik namun jahil. Berbeda denganku yang manja dan tidak cantik. Tapi karena itulah kami begitu akrab.
"Masih ngantuk. ." sahutku malas lalu kembali ke atas tempat tidurku yang telah rapih.
"Ayo bangun!" bujuk kakakku, Chocola,"Kalau tidak bangun nanti aku tinggal loh!"
Kalau sudah begini, kemungkinannya 50:50. Dia bisa saja benar-benar meninggalkanku. tapi bisa juga itu hanyalah siasat jahilnya. Mau tak mau aku bangun dari tempat tidurku yang nyaman dan memaksa kakiku melangkah menuju kamar mandi.
"Aku masih mengantuk," sahutku putus asa sambil menatap ke arah Chocola yang berbalik menatapku dengan tatapan jahil. Dengan cepat ku langkahkan kakiku ke kamar mandi. Aku merasakan hal buruk yang akan terjadi bila aku tidak melakukannya.
Setengah jam kemudian aku sudah berada di meja makan bersama Chocola dan Papa. Ku tatap menu pagi ini, nasi goreng dan roti dengan selai di permukaannya. Aku mendesah. Seketika Chocola menatapku.
"Mama, aku ingin sandwich dan sereal!" rajukku sambil memainkan garpu yang ada di tanganku.
"Ayo makan, jangan pilih-pilih makanan. Tidak baik!" protes papa melihat tingkahku.
Aku menatap mama yang hanya tersenyum membawakan menu sarapan yang sesuai dengan keinginanku.
"Special untuk Vanilla," ucap mama sambil meletakan hidangan di hadapanku. Papa hanya mendecak sambil menggelengkan kepalanya.
Aku tersenyum dan menggoyangkan badanku seolah ada musik yang membuatku menari. Ku tatap Chocola yang tengah sibuk dengan sarapannya. Tiba-tiba saja Chocola menatapku dengan tatapan setengah kesal. Entah karena apa, sepertinya dia badmood pagi ini.
"Mama, aku ingin bekal makanan setiap hari, ya?" ucapku saat mama bergabung di meja makan.
"Kau ingin mama buatkan apa?"tanya mama seraya tersenyum lembut.
"Sandwich," ucapku senang. sambil memikirkan teman-teman baru yang akan bertemu denganku di sekolah nanti.
"Chocola ingin dibuatkan bekal apa?" tanya mama pada kakakku itu, namun Chocola hanya diam seolah tak mendengarkan pembicaraan kami.
"Ayo kita berangkat!" ucap papa penuh semangat di sambut sorakanku yang gembira. Rasanya aku benar-benar tidak sabar untuk sampai di sekolah.
"Kau ini!"bisik Chocola sambil menusuk-nusuk pipiku saat aku mengambil bekal dari mama.
"Apa?"tanyaku bingung namun dia meninggalkanku dan masuk ke mobil dengan tatapan setengah kesalnya.
'Apa sih yang sejak tadi dipikirkan Chocola? Apa dia tidak suka hari pertama?" pikirku sambil bertanya-tanya dalam hati.
(Chocola Version)
Kuperhatikan satu per satu pakaian
yang menggantung di lemari besar itu. Setengah dari isinya telah berserakan
memenuhi seisi ruangan. Kucoba memadupadankan pakaian yang satu dengan lainnya.
Cocok, tentu saja. Semuanya terlihat sangat pas.
Pandanganku beralih pada sosok
mungil disebelahku, adikku. Dia tampak sedang memandangi pakaian yang
berserakan itu.
"Vanilla, kamu mau yang
mana?" Tanyaku padanya, ia segera mengalihkan pandangannya kearahku.
"Tidak ada yang cocok
denganku!" Jawabnya murung. Aku memandang sekelilingku lagi, mengamati
pakaian-pakaian itu satu per satu. Tidak mungkin tidak ada, pasti ada walaupun
hanya satu pakaian. Pandanganku tertuju pada sweater merah yang menggantung di
lemari pakaian.
"Yang ini saja, ini cocok
untukmu." Kataku seraya menyerahkan sweater itu kepadanya.
Dia tersenyum dan menganggukkan
kepala. Sweater itu terlihat pas di tubuhnya.
"Terima kasih, Chocola."
Ujarnya senang.
^^
Buku-buku pelajaran, semuanya telah tertata
rapi di dalam tas. Seragam sekolah yang baru juga telah melekat di tubuhku.
Bagaimana cara mengungkapkannya ya? Entahlah, tapi kurasa aku siap untuk
menjalani hari ini.
"Vanilla, ayo bangun..!!"
Seruku membangunkannya yang masih berlindung di balik selimutnya.
"Hari ini hari pertama masuk
SMP lho! Kau tidak mau sampai datang terlambat, kan?" Tambahku sambil
berjalan keluar dari kamar. Baru beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba
saja...
"BRUK! BRAK!! DUK!!"
Aku menoleh ke dalam kamar. Kulihat
adikku sedang dalam posisi terbaring di lantai sambil mengusap kepalanya. Dia
pasti jatuh dari tempat tidur karena selimut yang membelit tubuhnya.
Aku tertawa melihatnya, dia terlihat
kesal padaku yang meledeknya.
"Makanya, buka mata dulu, baru
lari. Liat tuh, jatuh kan cuma karena selimut!" Ujarku menertawai
kecerobohannya.
Vanilla merengut kesal. "Senang
melihat adiknya sendiri jatuh, senang...!?" Protesnya.
Aku menghentikan tawaku dan bertolak
pinggang di hadapannya, "Iya dong, senang. Habis lucu sih, coba aku
foto."
Aku tertawa lagi, sedangkan ia
terlihat semakin kesal. Yah, paling tidak aku tidak perlu repot
membangunkannya lagi. Kejadian tadi seharusnya cukup untuk membuka
matanya.
"Masih ngantuk.." Sahutnya
sambil berbaring lagi di atas tempat tidurnya.
"Yaaa!! Ayo bangun!! Kalau
tidak bangun nanti aku tinggal lho!"
Vanilla membuka matanya dan mulai
beranjak dari tempat tidurnya. "Aku masih mengantuk, Chocola..."
Sahutnya lemas.
"Kau pikir aku tidak
mengantuk?" Lirihku pelan, sangat pelan sampai aku ragu dia bisa mendengar
perkataanku.
Aku melirik jam tanganku. Melihatnya
yang sudah masuk ke kamar mandi membuatku beranjak dari kamar dan menuju ruang
makan.
"Selamat pagi, pa." Sapaku
saat tiba di meja makan.
Kulihat hanya ada papa di sana, ia
sedang mengoleskan selai di atas rotinya. Mama pasti masih sibuk di dapur
menyiapkan sarapan untuk kami.
"Selamat pagi, Chocola.
Bagaimana keadaanmu? Sudah siap untuk hari pertamamu di SMP?" Tanya papa
padaku.
Aku mengangguk denga penuh antusias.
"Tentu saja aku siap. Aku tidak sabar bertemu dengan teman-teman baru.
Kira-kira seperti apa ya mereka? Apa mereka akan menerimaku dengan baik?"
Ujarku cemas.
"Tentu saja, sayang. Mereka
pasti mau berteman denganmu. Kalau sampai ada yang memusuhimu, beritahu papa.
Papa pasti akan memberi pelajaran pada anak itu. Berani-beraninya dia memusuhi
putri papa yang cantik ini.."
"Ya ampun, pa. Tidak perlu
berlebihan seperti itu. Mereka hanya anak SMP, tidak ada yang perlu
dikhawatirkan." Ujar mama yang tiba-tiba saja muncul sambil meletakkan
nasi goreng buatannya di atas meja. Kemudian dia kembali lagi ke dapur untuk
mengerjakan hal lain.
Beberapa saat kemudian, Vanilla
datang dengan seragam sekolah yang sama denganku. Dia mendesah saat melihat
menu yang dihidangkan di atas meja. Aku menatapnya sekilas, setelah itu kembali
fokus pada nasi goreng yang ada di piringku. Ia pasti menolak menu yang sudah
dihidangkan itu.
"Mama, aku ingin sandwich dan
sereal!" Ujarnya dengan nada manja.
Benarkan apa yang kupikirkan.
Kejadian seperti ini terjadi hampir setiap pagi saat kami sekeluarga sedang
menikmati sarapan. Jadi, aku sudah tidak heran lagi.
"Ayo makan, jangan pilih-pilih
makanan. Tidak baik!" Protes papa. Setelah ini mama akan datang sambil
membawa apa yang diinginkan Vanilla.
"Special untuk Vanilla,"
ucapnya kemudian.
Kejadian seperti ini sudah menjadi
rutinitas di pagi hari. Vanilla merajuk, papa yang protes, dan mama yang
memanjakan Vanilla.
"Mama, aku ingin bekal makanan
setiap hari, ya?" Ujar Vanilla yang sedang menikmati semangkuk serealnya.
"Kau ingin mama buatkan
apa?"
"Sandwich!" Serunya
senang.
Mama melirik ke arahku yang masih
fokus menghabiskan sarapanku.
"Chocola ingin dibuatkan bekal
apa?" Tanya mama padaku.
Aku kehilangan selera makan, melihat
mama yang sangat memanjakan Vanilla membuat moodku sedikit berantakan. Ah~
tidak, tidak! Moodku tidak boleh sampai memburuk, karena semua yang akan
kulakukan hari ini tidak akan berjalan baik jika moodku bermasalah.
"Ayo kita berangkat!" Seru
papa. Vanilla bersorak gembira menyambut ajakan papa. Sepertinya ia sangat
senang.
"Kau ini!" Bisikku
padanya, sedikit tidak suka dengan kelakuannya.
"Apa?" Tanyanya bingung.
Berisik. Aku sebal jika pagi-pagi
sudah ada yang membuat kegaduhan. Kuharap hari ini semuanya berjalan lancar.
Kuharap di hari pertama ini, aku bisa menemukan teman-teman yang baik. Dan
kuharap, Vanilla tidak bersikap manja padaku di depan teman-teman baruku nanti.
^^